ada beberapa tulisan lama yang ingin kumasukkan dalam pensieve ini :
Islam dan Profesi
Pada hari ini ku belajar dari dua orang Muslim yang berdedikasi tinggi pada Islam dan profesinya. Di tengah ku sedang mencari sesuatu yang hilang di dalam diriku, dua orang ini muncul memberikan berjuta inspirasi bagiku, membuatku termenung dan mencoba mencari kembali tujuan hidup dan mengorganisasikan hidupku lagi.
Yang pertama adalah Franck ‘Bilal’ Ribery, gelandang Bayern Muenchen, telah menjadi motor penggerak lini tengah Bayern Muenchen. Meski telah menjadi bintang, kepribadian Ribery cukup unik dan tidak tinggi hati. Pemain ini juga punya jiwa besar dengan rasa tanggung jawab yang besar. Di lapangan hijau dia seorang pemain yang hebat. Dalam kehidupan sosial dia berkepribadian hangat. Sebagai individu dia rajin ibadah. Ribery adalah figure kesayangan public Allianz Arena saat ini. Orang semakin menyukai Ribery karena pembawaannya yang menyenangkan dan sikapnya yang selalu professional. Pada saat cuaca dingin bulan Februari menyelimuti kota Muenchen, Ribery tak malas untuk tetap menghangatkan tubuhnya dengan muncul di pusat latihan klub. Padahal, dia sendiri saat ini tengah berkutat dengan cedera kaki. Dia juga tidak pernah menolak penggemar yang menginginkan tanda tangannya atau pun berfoto bersama, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Hal itu dilakukannya dengan senyum. Di koridor berbagai fasilitas pusat latihan Bayern, lelaki berkewarganegaraan Perancis ini selalu menyapa orang. “Saya ingin menjadi teman siapa pun,” ujarnya. “Dua menit untuk berfoto dan memberi tanda tangan buat fans amatlah penting karena buat mereka hal-hal ini sangat berarti,” sambungnya lagi. Ribery juga sering mengundang pertanyaan publik Jerman karena setiap akan bertanding selalu melakukan ritual menengadahkan kedua tangannya dan berdoa. Namun, orang sudah tahu bahwa dia seorang Muslim. Ribery menyadari kesuksesan bukanlah sesuatu yang abadi. Roda nasib dalam kehidupan selalu berputar. “Atas semua yang telah saya alami, saya menyikapinya dengan tenang, tetapi saya pun sadar pada semua nasib yang saya miliki,” katanya. Ribery telah menjadi sosok istimewa buat warga Muenchen.
Berikutnya adalah Peter ‘Abdul al-Adheem’ Sanders, Peter adalah seorang seniman fotografer yang berdedikasi tinggi. Hidup di belakang lensa bagi seorang fotografer adalah sebuah pengalaman hidup yang sangat mengesankan. Bagi Peter Sanders, memotret berarti mengabadikan obyek sedemikian rupa, sehingga mucul emosi tertahan dan sesungguhnya dari karya-karya foto yang dihasilkan. Dia kini menjadi salah satu fotografer dengan kemampuan seni yang disegani di Inggris Raya, dengan fokus utama : orang-orang Muslim di negaranya dan di belahan dunia lain. Sanders melihat lewat mata seorang Muslim dan sebuah perspektif Islami. “Tapi pada akhirnya, semuanya milik Tuhan” demikian tanggapan Peter saat banyak orang memuji karya fotografinya. Islam, bagi Peter Sanders, adalah sebuah cara untuk menjalani hidup dengan tenang. Dia sangat percaya akan manfaat kekhusyukan dan ketenangan berdoa serta beribadah dalam Islam. “Islam adalah sebuah ilmu pengetahuan jika Anda mempraktikannya dengan benar.” “Islam adalah suatu ilmu” katanya “Fotografi adalah seni” Menurut Peter cahaya adalah sesuatu yang dekat dengan kehidupan seorang fotografer. Mereka sangat terpukau akan keindahan yang sanggup dihasilkan oleh cahaya. Tapi saya mendapati, satu jenis cahaya lain yang jauh lebih memukau, yaitu cahaya spiritual. “Ada sesuatu dalam Islam yang mampu menghasilkan keindahan sekaligus cahaya.” Dari foto-fotonya kita dapat menemukan orang-orang Muslim lain yang juga mampu menjadi seorang professional di bidangnya tanpa harus meninggalkan identitasnya sebagai seorang Muslim. Ada aktris, syeikh, seniman, pemusik, kurator, pengajar, petugas masyarakat, penerbit, presenter, perancang, theater, pembuat game, atlit, manajer, parlemen, direktur bank, dsb.
Orang-orang Muslim tersebut mengajarkan kepada kita tentang dedikasi pada Islam dan profesinya, tanpa harus meninggalkan salah satunya. Bersikap professional dalam bekerja dan rajin beribadah sehingga terciptalah akhlak yang dapat tercermin dalam perilaku sehari-hari bahkan dalam profesionalitas dunia kerja. Mereka benar-benar mengetahui tujuan hidup mereka, dan profesi adalah salah satu sarananya disamping bekerja adalah sebuah kewajiban. Bagaimana dengan diri ini. Dapatkah diri ini menjadi seorang yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungannya, karena sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat. Kuncinya adalah dedikasi pada Islam dan profesi sehingga profesi kita dapat memberikan manfaat bagi sekeliling kita dimanapun kita berada dan akhlak Islami pun dapat muncul pada profesionalitas dunia kerja seperti yang telah dicontohkan orang-orang hebat di atas karena semuanya adalah bersumber pada Allah SWT.
Sumber :
- Harian Kompas, “Franck Ribery Mencatatkan Noktah di Bundesliga”, Rabu, 20 Februari 2008
- Pameran The Art of Integration Islam Peter Sanders, Masjid Kampus UGM