Archive for May, 2008

#6

May 31, 2008

Sermo Reservoir and Glagah Beach

(English mode: on, just want to try to use English properly, too much singlish at work which really “belepotan” =P)

Just want to store some memory hang out with some of my friends before we graduated. The travelling club – that’s what we called for ourselves, a bunch of students who love travelling – decided to go to West Progo to visit our friend’s house and travelling to Sermo Reservoir. First, I thought that Sermo Reservoir look like Gadjah Mungkur Reservoir in Central Java. I went there before with my family. The trip to go there is really full of trees.

But the first sight when we enter the area. Whoa!!! It’s beautiful!! It’s just look like a lake surrounded by hills.

Even, there are some floating restaurants in the central island.

Unfortunately, at that day there was no trip schedule to go there. It’s just empty deck with ship attached at it.

So beautiful, even the abandoned ship made the surrounding feel so natural.

Of course, we didn’t forget to take photo of ourselves. But who did it if I want to appear in camera too?? So I just put my camera in the edge of the deck!!! Hopefully it didn’t plunge to the water, it was really scary. And set the timer, and then 1, 2, and voila…this is travelling club!!

But suddenly the rain fell down so we decided to take rest in the gazebo and to get lunch which brought by my friend whose house we visited before.

After the rain, we walked to the surrounding area and then we decided to go back before it’s raining again. But my friends have another crazy idea, we went to Glagah Beach!!! Yippee!!! From mountain down to beach!!! So that’s Sermo Reservoir, hope we can come to that place again sometimes.

On the way to the beach, we found very nice woods. Surrounded by greenery, the light just passed, and the shadow played.

So we decided to…take photo again!!! Hahaha.

So, after awhile, here we come!!! Glagah Beach!!!

Glagah is like common beach on southern part Indonesia with high tides ^_^.

So we just played with the water. Hehehe.

Glagah beach is really far from Jogjakarta City so it’s not too crowded there. We just met a few people, but we like the situation because we can enjoy ourselves there.

We noticed some fisherman fished from the beach using very long string.

So when the time’s over. Here we are!!! Young architect generation ready to face the world!!!

I hope we can hang out together again sometimes… Some of them right now take their final project in university, but for me I still need some travelling…

#5

May 24, 2008

Duduk di sana,
seorang diri di negeri asing.
Jauh dari orang-orang yang kukenal.
Sebuah perasaan menghinggapiku.
Seakan aku teringat sesuatu, sesuatu yang tak kuketahui…
…dan selama ini kutunggu-tunggu.
Tapi aku tak tahu apa.
Mungkin itu sesuatu yang aku lupa.
Atau sesuatu yang kurindukan selama hidupku.
Aku hanya bisa mengatakan bahwa aku merasa…
…gembira sekaligus sedih.
Tapi bukan kesedihan mendalam.
Karena aku merasa bersemangat.
Ya. Bersemangat.

Paris Je’Taime

#4

May 24, 2008

sekedar tulisan lama pas masih cupu :

Area Heritage Sebagai Panduan Perancangan Kota

Pulang ke kotamu… ada setangkup haru dalam rindu… Katon Bagaskara, Kla Project

BAGI sebagian besar orang, magnet Yogyakarta begitu kuat untuk membuat setiap orang yang pernah datang untuk dapat kembali lagi ke kota ini. Yogyakarta juga telah banyak memberikan kenangan, ketenangan dan inspirasi. Itulah yang membuat banyak orang berbondong-bondong untuk mendatangi Kota Yogyakarta. Namun apakah Yogyakarta saat ini masih sering dirindukan orang?

Yogyakarta adalah kota yang kaya akan sejarah dan kebudayaan. Yogyakarta dikenal sebagai ‘the cultural capital of Java’, disini masih banyak dijumpai seni dan kebudayaan Jawa seperti batik, wayang, gamelan, tari-tarian, kerajinan perak, drama, musik, puisi, dan seni-seni kotemporer lainnya. Bahkan dengan adanya Keraton Yogyakarta yang menjadi satu-satunya keraton yang masih eksis menjalankan fungsi dan kebudayaannya yang telah mendunia bukan tidak mungkin Yogyakarta menjadi ‘the cultural capital of Indonesia’.

Batik Jogja wayang kulit

Dasar panduan rancang kota atau lebih dikenal sebagai urban design Kota Yogyakarta sebenarnya sudah diletakkan sejak kota ini dibuat. Sumbu imajiner antara Gunung Merapi – Tugu – alun-alun utara – Keraton – alun-alun Selatan – pantai selatan telah ditetapkan oleh Pangeran Mangkubumi sebagai sumbu kota utara-selatan. Dari sumbu tersebut lahirlah sebuah konsep alun-alun, sebuah konsep tentang urban square yang menjadi pusat kegiatan semua orang pada masanya dimana alun-alun dikelilingi dengan bangunan-bangunan penunjang selain Keraton seperti Masjid Kauman dan di utaranya terdapat Jalan Malioboro yang ditetapkan sebagai kawasan perdagangan dengan Pasar Beringharjo sebagai pusatnya. Namun pada perkembangan Kota Yogyakarta selanjutnya bersifat sprawl layaknya kota-kota di negara berkembang. Hal ini telah membuat panduan kota menjadi bias tidak terlihat lagi sehingga pembangunan kota pun menjadi tidak terkendali.

Selain bangunan-bangunan tersebut masih banyak bangunan heritage lain di seluruh penjuru Kota Yogyakarta. Kawasan Kotagede, Kotabaru, Jalan Solo, Titik Nol (Benteng Vredeburg, Gedung Agung, BI Kuno), Taman Sari, Pasar Ngasem, dan candi-candi yang tersebar di sekitar Yogyakarta. Dengan semakin bertambahnya penduduk kota ini yang sebagian besar mahasiswa membuat tuntutan zaman semakin modern. Hal ini yang belum dapat diakomodasi oleh Kota Yogyakarta karena ketiadaan Urban Design Guidelines yang aplikatif.

Jalan Malioboro – Taman Sari – Keraton

Yogyakarta sekarang tak ubahnya seperti kota-kota lain di Indonesia. Menjamurnya mal, kafe, dan berbagai bangunan modern telah menghilangkan ciri kota ini, membuat kontroversi akan hal ini seakan tiada akhirnya. Lalu lintas yang padat oleh kendaraan bermotor telah menggusur para pemakai sepeda yang beberapa tahun lalu masih menjadi raja di kota ini. Ketiadaan urban space tempat untuk menikmati kota telah membuat banyak orang berbondong-bondong mendatangi mal-mal yang ada sehingga gaya hidup sebagian remaja di kota ini tak ubahnya seperti kota-kota metropolitan di dunia. Sementara urban space yang ada seperti alun-alun dan malioboro mulai tidak terawat.

Lalu dimanakah Jalan Malioboro maupun jalan-jalan lain dan tempat lain yang dapat memberikan ketenangan dan inspirasi. Haruskah menjadi jalan-jalan yang panas, kotor dan penuh dengan polusi seperti saat ini. Dapatkah mal dan pusat-pusat kebudayaan modern bersanding dengan pesanggrahan dan pusat-pusat kebudayaan yang telah ada.

***

KYOTO, adalah ibukota Jepang sebelum dipindahkan oleh Ieyasu Tokugawa ke Edo (sekarang Tokyo) pada tahun 1603. Namun Kyoto sampai sekarang masih eksis, setelah selama 1000 tahun lebih menjadi ibukota Jepang. Walaupun ibukota Jepang sudah dipindah ke Tokyo namun Kyoto tetap menjadi ‘Japan’s cultural capital’.

Aerial view Kota Kyoto

Pemandangan alam, kuil-kuil, kota dan rumah-rumah membaur dengan keindahan sejarah Kyoto. Gion Festival, upacara minum teh, dan masih banyak aspek lagi yang menjadi karakteristik kebudayaan Jepang masih dapat kita temui di kota ini. Selama lebih dari 1200 tahun menjadi ibukota Kyoto, kebudayaan dan sejarah di Kyoto telah manjadi ibu kebudayaan di seluruh Jepang. Oleh karena itu dikatakan tidak mungkin mengetahui Jepang yang sebenarnya tanpa mengetahui Kyoto.

Di samping itu, Kyoto tidak hanya menjaga tradisi dan kebudayaannya, namun membangun atas dasar tradisi tersebut sebagai fondasi dalam pertukaran kebudayaan. Kyoto tetap menjaga spirit perubahan, sebagai ‘cultural capital of Japan’ secara terus menerus menciptakan tradisi baru. Dengan kerjasama dengan seluruh warganya, Kyoto berusaha menciptakan ‘relaxing lifestyle in vibrant city’, sebagai respon positif terhadap era baru, dengan tetap menjaga kebudayaan tradisional.

Pariwisata adalah basis ekonomi kota Kyoto. Dengan kebudayaannya yang kaya, kota ini selalu dibanjiri wisatawan setiap tahunnya. Hal inilah yang kemudian mendasari visi kota ini untuk selalu menjaga kekayaan tradisinya. Di samping itu kota ini juga berusaha mengembangkan konsep wisata MICE (meetings, incentives, conferences, and exhibitions) sebagai wajah pariwisata. Sejak tahun 1966 Kyoto telah sering menjadi tuan rumah konferensi internasional. Termasuk Protokol Kyoto mengenai usaha-usaha pengurangan global warming juga dirumuskan di sini.

Oleh karena itu pada saat yang bersamaan menjadi kota dengan budaya yang kaya, Kyoto juga menjadi kota modern. Ketika pembangunan kota berlanjut dengan pembangunan subways dan highways dengan fokus pada area sekitar stasiun dan area sebelah selatan, Kyoto juga tetap menjaga jalan-jalan dan rumah-rumah bergaya lama. Di Kyoto, bangunan lama dan bangunan baru dapat menyatu dalam harmoni.

Bangunan tradisonal dan modern menyatu dalam harmoni

Kyoto memiliki alam dan arsitektur yang indah, agar generasi berikutnya dapat menikmati hal ini Kyoto berusaha menjadi environment-friendly city. Dalam perspektif yang lebih luas, Kyoto juga telah mendukung usaha-usaha internasional mengenai hal ini dengan menjadi tuan ruma Protokol Kyoto dan World Water Forum.

Anak-anak sedang menyirami taman dengan rainwater

***

PADA beberapa waktu lalu, Yogyakarta diguncang kontroversi terhadap rencana pembangunan mal Ambarukmo. Hal ini dinilai sangat kontras dengan ciri khas kota. Sebelumnya sudah berdiri Malioboro Mall dan Galeria Mall di kota Yogyakarta. Apakah dengan hadirnya Ambarukmo Mall dan Saphir Square di sebelahnya tidak semakin meneguhkan keberadaan pengaruh komersialisasi di Kota Yogyakarta. Sebelumnya keberadaan Malioboro Mall yang sudah dibangun lebih dulu diharapkan menjadi sebuah handicraft mall dengan konsep arkade yang menjadi keunikan Jalan Malioboro namun ternyata mall ini juga menjadi mall-mall seperti biasa.

Sebenarnya secara design Ambarukmo Mall juga sudah memperhatikan outdoor space di depan maupun di samping dengan konsep plaza. Namun ternyata hasilnya kurang menggembirakan, aktivitas di luar lebih sedikit daripada aktivitas di dalam mall. Hal ini selain diakibatkan oleh kurangnya street furniture dan outdoor activity juga disebabkan oleh kawasan sekitarnya yang memiliki sifat yang berbeda dengan Malioboro.

Sebenarnya pemilihan kawasan di Jalan Solo tersebut juga sudah tepat secara alasan de-konsentrasi, namun keberadaan mall ini juga tidak memperhatikan kawasan di sekelilingnya. Hal inilah yang membuat kontroversi masyarakat, karena di sebelahnya adalah Pesanggrahan Ambarukmo, sebuah tempat peristirahatan Sultan Yogyakarta pada zaman dahulu. Dan hasilnya Gandhok Tengen harus terpotong karena termakan bangunan mall tersebut. Sebuah desain yang tidak memperhatikan sekitarnya apalagi terhadap bangunan bersejarah.

Inikah wajah kota-kota di Indonesia, yang dengan seenaknya merubuhkan bangunan bersejarah dengan bangunan modern? Atau mungkin ini jawaban para arsitek Indonesia tentang sebuah bangunan lama dan baru yang menyatu dengan harmoni? Ataukah karena ketiadaan perhatian pemerintah terhadap hal ini? Apa ada UDGL Yogyakarta yang mengatur pelestarian bangunan lama dan pembangunan bangunan baru?

Sebagaimana yang tertulis dalam koran Kompas beberapa waktu yang lalu. Adakah pusat studi kebudayaan khusus dikembangkan oleh keraton atau lembaga yang bekerja sama dengannya? Bisakah kawasan Tamansari yang direnovasi dengan dana bantuan asing tetap menjadi area publik untuk menampilkan produksi masyarakat luas?

Bisakah muncul kebijakan tata kota yang meneguhkan kekhasan kawasan bersejarah, penambahan fasilitas pasar rakyat dan bukan mal-mal milik pemodal besar. Bisakah toko-toko kecil Jalan Kintelan, Jalan Solo, dan Bantul, serta penjual bubur krecek atau gudeg Jogja memperoleh lahan khusus dan jadi ikon Kota Yogyakarta?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan selalu berputar seperti pertanyaan bagaimana peran arsitektur kota dalam hal ini? Katon Bagaskara pernah berharap, Yogyakarta tetap menjadi “sajian khas dan berselera….”

#3

May 24, 2008

ada beberapa tulisan lama yang ingin kumasukkan dalam pensieve ini :

Islam dan Profesi

Pada hari ini ku belajar dari dua orang Muslim yang berdedikasi tinggi pada Islam dan profesinya. Di tengah ku sedang mencari sesuatu yang hilang di dalam diriku, dua orang ini muncul memberikan berjuta inspirasi bagiku, membuatku termenung dan mencoba mencari kembali tujuan hidup dan mengorganisasikan hidupku lagi.

Yang pertama adalah Franck ‘Bilal’ Ribery, gelandang Bayern Muenchen, telah menjadi motor penggerak lini tengah Bayern Muenchen. Meski telah menjadi bintang, kepribadian Ribery cukup unik dan tidak tinggi hati. Pemain ini juga punya jiwa besar dengan rasa tanggung jawab yang besar. Di lapangan hijau dia seorang pemain yang hebat. Dalam kehidupan sosial dia berkepribadian hangat. Sebagai individu dia rajin ibadah. Ribery adalah figure kesayangan public Allianz Arena saat ini. Orang semakin menyukai Ribery karena pembawaannya yang menyenangkan dan sikapnya yang selalu professional. Pada saat cuaca dingin bulan Februari menyelimuti kota Muenchen, Ribery tak malas untuk tetap menghangatkan tubuhnya dengan muncul di pusat latihan klub. Padahal, dia sendiri saat ini tengah berkutat dengan cedera kaki. Dia juga tidak pernah menolak penggemar yang menginginkan tanda tangannya atau pun berfoto bersama, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Hal itu dilakukannya dengan senyum. Di koridor berbagai fasilitas pusat latihan Bayern, lelaki berkewarganegaraan Perancis ini selalu menyapa orang. “Saya ingin menjadi teman siapa pun,” ujarnya. “Dua menit untuk berfoto dan memberi tanda tangan buat fans amatlah penting karena buat mereka hal-hal ini sangat berarti,” sambungnya lagi. Ribery juga sering mengundang pertanyaan publik Jerman karena setiap akan bertanding selalu melakukan ritual menengadahkan kedua tangannya dan berdoa. Namun, orang sudah tahu bahwa dia seorang Muslim. Ribery menyadari kesuksesan bukanlah sesuatu yang abadi. Roda nasib dalam kehidupan selalu berputar. “Atas semua yang telah saya alami, saya menyikapinya dengan tenang, tetapi saya pun sadar pada semua nasib yang saya miliki,” katanya. Ribery telah menjadi sosok istimewa buat warga Muenchen.

Berikutnya adalah Peter ‘Abdul al-Adheem’ Sanders, Peter adalah seorang seniman fotografer yang berdedikasi tinggi. Hidup di belakang lensa bagi seorang fotografer adalah sebuah pengalaman hidup yang sangat mengesankan. Bagi Peter Sanders, memotret berarti mengabadikan obyek sedemikian rupa, sehingga mucul emosi tertahan dan sesungguhnya dari karya-karya foto yang dihasilkan. Dia kini menjadi salah satu fotografer dengan kemampuan seni yang disegani di Inggris Raya, dengan fokus utama : orang-orang Muslim di negaranya dan di belahan dunia lain. Sanders melihat lewat mata seorang Muslim dan sebuah perspektif Islami. “Tapi pada akhirnya, semuanya milik Tuhan” demikian tanggapan Peter saat banyak orang memuji karya fotografinya. Islam, bagi Peter Sanders, adalah sebuah cara untuk menjalani hidup dengan tenang. Dia sangat percaya akan manfaat kekhusyukan dan ketenangan berdoa serta beribadah dalam Islam. “Islam adalah sebuah ilmu pengetahuan jika Anda mempraktikannya dengan benar.” “Islam adalah suatu ilmu” katanya “Fotografi adalah seni” Menurut Peter cahaya adalah sesuatu yang dekat dengan kehidupan seorang fotografer. Mereka sangat terpukau akan keindahan yang sanggup dihasilkan oleh cahaya. Tapi saya mendapati, satu jenis cahaya lain yang jauh lebih memukau, yaitu cahaya spiritual. “Ada sesuatu dalam Islam yang mampu menghasilkan keindahan sekaligus cahaya.” Dari foto-fotonya kita dapat menemukan orang-orang Muslim lain yang juga mampu menjadi seorang professional di bidangnya tanpa harus meninggalkan identitasnya sebagai seorang Muslim. Ada aktris, syeikh, seniman, pemusik, kurator, pengajar, petugas masyarakat, penerbit, presenter, perancang, theater, pembuat game, atlit, manajer, parlemen, direktur bank, dsb.

Orang-orang Muslim tersebut mengajarkan kepada kita tentang dedikasi pada Islam dan profesinya, tanpa harus meninggalkan salah satunya. Bersikap professional dalam bekerja dan rajin beribadah sehingga terciptalah akhlak yang dapat tercermin dalam perilaku sehari-hari bahkan dalam profesionalitas dunia kerja. Mereka benar-benar mengetahui tujuan hidup mereka, dan profesi adalah salah satu sarananya disamping bekerja adalah sebuah kewajiban. Bagaimana dengan diri ini. Dapatkah diri ini menjadi seorang yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungannya, karena sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat. Kuncinya adalah dedikasi pada Islam dan profesi sehingga profesi kita dapat memberikan manfaat bagi sekeliling kita dimanapun kita berada dan akhlak Islami pun dapat muncul pada profesionalitas dunia kerja seperti yang telah dicontohkan orang-orang hebat di atas karena semuanya adalah bersumber pada Allah SWT.

Sumber :

- Harian Kompas, “Franck Ribery Mencatatkan Noktah di Bundesliga”, Rabu, 20 Februari 2008

- Pameran The Art of Integration Islam Peter Sanders, Masjid Kampus UGM

#2

May 24, 2008

Kenapa ya blog ini kunamain travelling?

Ya, entah disadari atau tidak, suka atau ga suka travelling tapi aku masih mengingatnya, berkejaran bersama sepupu di pasar sleman, asrinya kali opak dan waduk sermo, main air di air terjun kotabaru gunungnya bamega, cepatnya speed boat ke Banjarmasin, kayanya kebudayaan di singkawang, sungai sambas yang sungguh bijase, putihnya pasir panjang, panjangnya sungai Kapuas dan bengawan solo, tentramnya kota pati, dinginnya hawa bandung dan kaliurang serta genting, tidur di pantai selatan, menemui sesama malay di negeri melayu dan kini terdampar di woodland.

Buatku pengalaman-pengalaman itu sungguh indah dan tidak tergantikan, dan kini dengan berbekal sedikit pengetahuan tentang arsitektur kumenapakkan kaki di kekayaan heritage candi, keraton, kotagede, taman sari, ulen sentalu, paris van java, cihampelas walk, petronas, putrajaya, malaka, genting, esplanade, orchard, malioboro, clark quey, kali code, vivo city, zaha hadid, norman foster, dan masih banyak hal-hal kecil yang tak mungkin disebutkan semuanya macam detil malioboro, detil art deco di jalanan bandung, detil ruko malaka, detil ruko kampong glam, dan lain sebagainya.

Entah direncanakan atau tidak tanpa kusadari aku telah berkenalan dengan arsitektur sejak kecil, dari salah satu material paling gampang dicari di nusantara, kayu. Melihat ayah yang setiap akhir minggu membuat furniture sendiri untuk rumahnya, mencoba-coba memegang tatah, gergaji, dibuatkan pesawat N250 dan pesawat siluman B20 dari kayu, membuat sendiri pesawat WingX Starwars yang bisa dibuka tutup kokpitnya dari kertas!!!Tank yang kebesaran, senang dengan permainan The Sims buatan sendiri pake potongan kayu bekas untuk dibikin zoning rumah 2d lengkap dengan perabotnya, membuat sendiri permainan Winning Eleven pake karton bekas!!!, membuat sendiri permainan Worms pake kelereng dan tumpukan kayu sebagai basecamp!!!

Dan membuat sendiri perencanaan kota bersama teman-teman masa kecil, wawan, mas aji, donny. Dimana ya rumahnya, dimana ya jalan tolnya, dimana ya pompa bensinnya, dimana ya airportnya. Rumah sudah mulai 3d, sebuah rumah yang dinaikkan di atas sebuah base berbentuk setengah bola yang di atasnya dimanfaatkan untuk kolam renang lengkap dengan tamannya yang tumbuh pohon besar dan dimanfaatkan untuk rumah pohon (duh yang ini ga mungkin disukai klien ^^), rumah berbentuk gua bermaterial batu, rumah dari tumpukan batang pohon, dan finally helicopter pake pohon lengkap dengan kursinya serta sebuah pondok bamboo yang kekecilan buat kita.

Dan sekarang sedang mengejar impian untuk mencari ilmu hingga ke china, zen garden di jepang, sepanjang thames river London, Eiffel paris, la rambla Barcelona, Andalusia spanyol, the city of canal venice, downtown new York, Arabian night, dan tentu saja haji ke mekah. Mengunjungi universitas-universitas tempat ilmu berkumpul, school of Harvard, universite de paris Sorbonne, sci-arc, delft university, universitas al-azhar dan bertemu dengan arsitek-arsitek yang cuman bisa lihat di buku untuk menanyakan hey, bagaimana cara kamu membuatnya?

Dan kusadari bahwa maket dan sketsaku jelek sekali…

#1

May 24, 2008

“Then we travelled to Baghdad, the Abode of Peace and Capital of Islam. Here there are two bridges like that at Hilla, on which the people promenade night and day, both men and women. The baths at Baghdad are numerous and excellently constructed, most of them being painted with pitch, which has the appearance of black marble. This pitch is brought from a spring between Kufa and Basra, from which it flows continually. It gathers at the sides of the spring like clay and is shovelled up and brought to Baghdad. Each establishment has a number of private bathrooms, every one of which has also a wash-basin in the corner, with two taps supplying hot and cold water. Every bather is given three towels, one to wear round his waist when he goes in, another to wear round his waist when he comes out, and the third to dry himself with.”-Rihla, Ibn Battuta-

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Peribahasa yang sangat indah dalam melukiskan betapa pentingnya menuntut ilmu. Dan tercatatlah seorang Ibn Battuta seorang ilmuwan dan traveler muslim yang telah menjelajah hampir ke semua wilayah kekhalifahan Islam pada masanya, dari Afrika Utara, Afrika Barat, Eropa Selatan, Eropa Timur, Timur Tengah, India, Asia Tengah, Asia Tenggara hingga China, dan telah tercatat dalam Rihla, sebuah buku yang mengambarkan perjalanannya.

Akhirnya, ada waktu juga untuk memulai. Di tengah kesibukan pekerjaan tiada akhir, kompetisi yang masih menarik untuk di-explore, dan skipsi yang belum terpegang sama sekali. “Waktu adalah pedang”, maka manfaatkanlah waktu sebaik-baiknya karena waktu memang diciptakan untuk tidak cukup sehingga kita harus pintar-pintar dalam memanfaatkannya.

Fhuhf semoga ini bukan yang pertama dan yang terakhir, karena masih banyak memori di dalam otak berkapasitas kecil ini yang ingin dituliskan dalam sebuah pensieve. Sekali lagi ini bukan tentang arsitektur maupun jalan-jalan. Ini hanyalah sebuah travelling dalam hidup ini. Karena hidup ini ibaratkan mimpi. Entah kapan kita akan terbangun dari mimpi ini dan memulai hidup yang sebenernya. Namun mimpi inilah yang akan menentukan segalanya. Bagi yang telah iseng-iseng mengunjungi blog ini saya minta maaf jika tidak sesuai dengan selera anda karena ini hanyalah selembar catatan travelling hidup seorang manusia yang ingin menjadi better man.