sekedar tulisan lama pas masih cupu :
Area Heritage Sebagai Panduan Perancangan Kota
Pulang ke kotamu… ada setangkup haru dalam rindu… Katon Bagaskara, Kla Project
BAGI sebagian besar orang, magnet Yogyakarta begitu kuat untuk membuat setiap orang yang pernah datang untuk dapat kembali lagi ke kota ini. Yogyakarta juga telah banyak memberikan kenangan, ketenangan dan inspirasi. Itulah yang membuat banyak orang berbondong-bondong untuk mendatangi Kota Yogyakarta. Namun apakah Yogyakarta saat ini masih sering dirindukan orang?
Yogyakarta adalah kota yang kaya akan sejarah dan kebudayaan. Yogyakarta dikenal sebagai ‘the cultural capital of Java’, disini masih banyak dijumpai seni dan kebudayaan Jawa seperti batik, wayang, gamelan, tari-tarian, kerajinan perak, drama, musik, puisi, dan seni-seni kotemporer lainnya. Bahkan dengan adanya Keraton Yogyakarta yang menjadi satu-satunya keraton yang masih eksis menjalankan fungsi dan kebudayaannya yang telah mendunia bukan tidak mungkin Yogyakarta menjadi ‘the cultural capital of Indonesia’.


Batik Jogja wayang kulit
Dasar panduan rancang kota atau lebih dikenal sebagai urban design Kota Yogyakarta sebenarnya sudah diletakkan sejak kota ini dibuat. Sumbu imajiner antara Gunung Merapi – Tugu – alun-alun utara – Keraton – alun-alun Selatan – pantai selatan telah ditetapkan oleh Pangeran Mangkubumi sebagai sumbu kota utara-selatan. Dari sumbu tersebut lahirlah sebuah konsep alun-alun, sebuah konsep tentang urban square yang menjadi pusat kegiatan semua orang pada masanya dimana alun-alun dikelilingi dengan bangunan-bangunan penunjang selain Keraton seperti Masjid Kauman dan di utaranya terdapat Jalan Malioboro yang ditetapkan sebagai kawasan perdagangan dengan Pasar Beringharjo sebagai pusatnya. Namun pada perkembangan Kota Yogyakarta selanjutnya bersifat sprawl layaknya kota-kota di negara berkembang. Hal ini telah membuat panduan kota menjadi bias tidak terlihat lagi sehingga pembangunan kota pun menjadi tidak terkendali.
Selain bangunan-bangunan tersebut masih banyak bangunan heritage lain di seluruh penjuru Kota Yogyakarta. Kawasan Kotagede, Kotabaru, Jalan Solo, Titik Nol (Benteng Vredeburg, Gedung Agung, BI Kuno), Taman Sari, Pasar Ngasem, dan candi-candi yang tersebar di sekitar Yogyakarta. Dengan semakin bertambahnya penduduk kota ini yang sebagian besar mahasiswa membuat tuntutan zaman semakin modern. Hal ini yang belum dapat diakomodasi oleh Kota Yogyakarta karena ketiadaan Urban Design Guidelines yang aplikatif.

Jalan Malioboro – Taman Sari – Keraton
Yogyakarta sekarang tak ubahnya seperti kota-kota lain di Indonesia. Menjamurnya mal, kafe, dan berbagai bangunan modern telah menghilangkan ciri kota ini, membuat kontroversi akan hal ini seakan tiada akhirnya. Lalu lintas yang padat oleh kendaraan bermotor telah menggusur para pemakai sepeda yang beberapa tahun lalu masih menjadi raja di kota ini. Ketiadaan urban space tempat untuk menikmati kota telah membuat banyak orang berbondong-bondong mendatangi mal-mal yang ada sehingga gaya hidup sebagian remaja di kota ini tak ubahnya seperti kota-kota metropolitan di dunia. Sementara urban space yang ada seperti alun-alun dan malioboro mulai tidak terawat.
Lalu dimanakah Jalan Malioboro maupun jalan-jalan lain dan tempat lain yang dapat memberikan ketenangan dan inspirasi. Haruskah menjadi jalan-jalan yang panas, kotor dan penuh dengan polusi seperti saat ini. Dapatkah mal dan pusat-pusat kebudayaan modern bersanding dengan pesanggrahan dan pusat-pusat kebudayaan yang telah ada.
***
KYOTO, adalah ibukota Jepang sebelum dipindahkan oleh Ieyasu Tokugawa ke Edo (sekarang Tokyo) pada tahun 1603. Namun Kyoto sampai sekarang masih eksis, setelah selama 1000 tahun lebih menjadi ibukota Jepang. Walaupun ibukota Jepang sudah dipindah ke Tokyo namun Kyoto tetap menjadi ‘Japan’s cultural capital’.

Aerial view Kota Kyoto
Pemandangan alam, kuil-kuil, kota dan rumah-rumah membaur dengan keindahan sejarah Kyoto. Gion Festival, upacara minum teh, dan masih banyak aspek lagi yang menjadi karakteristik kebudayaan Jepang masih dapat kita temui di kota ini. Selama lebih dari 1200 tahun menjadi ibukota Kyoto, kebudayaan dan sejarah di Kyoto telah manjadi ibu kebudayaan di seluruh Jepang. Oleh karena itu dikatakan tidak mungkin mengetahui Jepang yang sebenarnya tanpa mengetahui Kyoto.

Di samping itu, Kyoto tidak hanya menjaga tradisi dan kebudayaannya, namun membangun atas dasar tradisi tersebut sebagai fondasi dalam pertukaran kebudayaan. Kyoto tetap menjaga spirit perubahan, sebagai ‘cultural capital of Japan’ secara terus menerus menciptakan tradisi baru. Dengan kerjasama dengan seluruh warganya, Kyoto berusaha menciptakan ‘relaxing lifestyle in vibrant city’, sebagai respon positif terhadap era baru, dengan tetap menjaga kebudayaan tradisional.

Pariwisata adalah basis ekonomi kota Kyoto. Dengan kebudayaannya yang kaya, kota ini selalu dibanjiri wisatawan setiap tahunnya. Hal inilah yang kemudian mendasari visi kota ini untuk selalu menjaga kekayaan tradisinya. Di samping itu kota ini juga berusaha mengembangkan konsep wisata MICE (meetings, incentives, conferences, and exhibitions) sebagai wajah pariwisata. Sejak tahun 1966 Kyoto telah sering menjadi tuan rumah konferensi internasional. Termasuk Protokol Kyoto mengenai usaha-usaha pengurangan global warming juga dirumuskan di sini.
Oleh karena itu pada saat yang bersamaan menjadi kota dengan budaya yang kaya, Kyoto juga menjadi kota modern. Ketika pembangunan kota berlanjut dengan pembangunan subways dan highways dengan fokus pada area sekitar stasiun dan area sebelah selatan, Kyoto juga tetap menjaga jalan-jalan dan rumah-rumah bergaya lama. Di Kyoto, bangunan lama dan bangunan baru dapat menyatu dalam harmoni.

Bangunan tradisonal dan modern menyatu dalam harmoni
Kyoto memiliki alam dan arsitektur yang indah, agar generasi berikutnya dapat menikmati hal ini Kyoto berusaha menjadi environment-friendly city. Dalam perspektif yang lebih luas, Kyoto juga telah mendukung usaha-usaha internasional mengenai hal ini dengan menjadi tuan ruma Protokol Kyoto dan World Water Forum.

Anak-anak sedang menyirami taman dengan rainwater
***
PADA beberapa waktu lalu, Yogyakarta diguncang kontroversi terhadap rencana pembangunan mal Ambarukmo. Hal ini dinilai sangat kontras dengan ciri khas kota. Sebelumnya sudah berdiri Malioboro Mall dan Galeria Mall di kota Yogyakarta. Apakah dengan hadirnya Ambarukmo Mall dan Saphir Square di sebelahnya tidak semakin meneguhkan keberadaan pengaruh komersialisasi di Kota Yogyakarta. Sebelumnya keberadaan Malioboro Mall yang sudah dibangun lebih dulu diharapkan menjadi sebuah handicraft mall dengan konsep arkade yang menjadi keunikan Jalan Malioboro namun ternyata mall ini juga menjadi mall-mall seperti biasa.
Sebenarnya secara design Ambarukmo Mall juga sudah memperhatikan outdoor space di depan maupun di samping dengan konsep plaza. Namun ternyata hasilnya kurang menggembirakan, aktivitas di luar lebih sedikit daripada aktivitas di dalam mall. Hal ini selain diakibatkan oleh kurangnya street furniture dan outdoor activity juga disebabkan oleh kawasan sekitarnya yang memiliki sifat yang berbeda dengan Malioboro.
Sebenarnya pemilihan kawasan di Jalan Solo tersebut juga sudah tepat secara alasan de-konsentrasi, namun keberadaan mall ini juga tidak memperhatikan kawasan di sekelilingnya. Hal inilah yang membuat kontroversi masyarakat, karena di sebelahnya adalah Pesanggrahan Ambarukmo, sebuah tempat peristirahatan Sultan Yogyakarta pada zaman dahulu. Dan hasilnya Gandhok Tengen harus terpotong karena termakan bangunan mall tersebut. Sebuah desain yang tidak memperhatikan sekitarnya apalagi terhadap bangunan bersejarah.
Inikah wajah kota-kota di Indonesia, yang dengan seenaknya merubuhkan bangunan bersejarah dengan bangunan modern? Atau mungkin ini jawaban para arsitek Indonesia tentang sebuah bangunan lama dan baru yang menyatu dengan harmoni? Ataukah karena ketiadaan perhatian pemerintah terhadap hal ini? Apa ada UDGL Yogyakarta yang mengatur pelestarian bangunan lama dan pembangunan bangunan baru?
Sebagaimana yang tertulis dalam koran Kompas beberapa waktu yang lalu. Adakah pusat studi kebudayaan khusus dikembangkan oleh keraton atau lembaga yang bekerja sama dengannya? Bisakah kawasan Tamansari yang direnovasi dengan dana bantuan asing tetap menjadi area publik untuk menampilkan produksi masyarakat luas?
Bisakah muncul kebijakan tata kota yang meneguhkan kekhasan kawasan bersejarah, penambahan fasilitas pasar rakyat dan bukan mal-mal milik pemodal besar. Bisakah toko-toko kecil Jalan Kintelan, Jalan Solo, dan Bantul, serta penjual bubur krecek atau gudeg Jogja memperoleh lahan khusus dan jadi ikon Kota Yogyakarta?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan selalu berputar seperti pertanyaan bagaimana peran arsitektur kota dalam hal ini? Katon Bagaskara pernah berharap, Yogyakarta tetap menjadi “sajian khas dan berselera….”