Dolanan nang sawah lan kali, gratis, tanpa embel-embel desa wisata
Pro dan kontra desa wisata
Alkisah, terdapat sebuah desa yang berada di pinggir Provinsi Yogyakarta berbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah. Tanahnya subur, dialiri secara langsung oleh Sungai Opak, lansekapnya juga indah karena di sebelah selatan terdapat perbukitan Prambanan. Kawasan ini pada jamannya pernah menjadi sentra produksi padi, tanpa predikat sentra pun masyarakatnya sudah lama bercocok tanam ladang dan sawah di desa ini, dikarenakan aliran Sungai Opak yang membawa material subur dari Gunung Merapi di utara.
Saya masih teringat ketika kecil, setiap mudik ke tempat nenek, malamnya menginap dan pagi-pagi sekali pasti akan pergi ke kali, menikmati hawa segar sawah, hutan, sungai, dan bukit. Cukup beruntunglah karena rumah nenek berada persis di tepi sungai opak sehingga pemandangan di belakang langsung terhampar hutan dengan berbagai macam tanaman keras dan bambu. Menapaki jalan-jalan desa menuju sungai yang terbuat dari batu-batu yang langsung diambil dari kali, diapit oleh kanan-kiri emper rumah penduduk yang setiap siang dan malam akan menyapa para petani yang sedang beristirahat sambil mendengarkan wayang orang dari radio.
Sampai di ujung jalan berbatu dan sesekali batu bata sampailah di sebuah lereng batu yang cukup terjal di depan hamparan hutan bambu. Untuk yang pertama kali datang pasti akan berhati-hati menuruni lereng berbatu yang kadang licin terkena hujan. Di bawah kita akan berjalan melewati kerindangan pohon-pohon bambu yang tumbuh dengan rapat, sesekali meluncurkan batang-batang bambu yang sudah rapuh membentuk sebuah lengkungan yang indah. Cahaya matahari hanya menyembul di antara pohon-pohon bambu yang menyinari jalan tanah berlapis serakan daun-daun bambu yang menjadikan suasana sedikit temaram.
Di tepi hutan yang juga tumbuh beberapa pohon besar, tampak beberapa bilik mandi yang memunculkan sumber-sumber air bersih dan jernih, yang selalu dipakai para petani yang akan pulang dari sawah untuk bersih-bersih. Ada juga beberapa pondok bambu yang digunakan para petani untuk rehat sambil memandangi hasil kerja keras mereka, karena di depan pondok-pondok tersebut langsung terhampar sawah-sawah hijau laksana karpet, dilatarbelakangi oleh rimbunan pohon-pohon gunung bangkel, yang pada jamannya masih asri dan bahkan terkadang orang-orang bisa menemui cheetah/macan gunung disini.
Berjalan lebih jauh menuju sungai melewati pematang-pematang sawah, teringat bahwa saya pernah diajari menanam padi di sawah-sawah milik nenek ini. Sambil bermain air belajar menanam padi, sesuatu yang tidak akan kita temui dengan mudah akhir-akhir ini. Selepas bebersih dan berehat sambil makan siang di pondok-pondok bambu, kita bisa berjalan-jalan menelusuri hutan di pinggir sungai, kerimbunan pohon-pohon sengon dan tanaman keras lainnya sangat menggiurkan bagi burung-burung untuk berumah diantaranya dan berkicau memanggil-manggil manusia untuk tertarik berjalan-jalan dan mendengar kicauan mereka.
Sampai di tepi sungai, dengan terkejut kita akan mendapati pasir yang berwarna putih dengan sesekali warna abu-abu tempat anak-anak bermain pasir untuk kemudian tidak tahan menceburkan diri ke dalam air yang masih jernih. Beberapa batu-batu besar tampak sudah dihinggapi oleh ibu-ibu yang memandikan anaknya sambil mencuci baju di tepi sungai. Bagian sungai yang tidak terlalu dalam dan berbatu banyak menjadi tempat favorit anak-anak untuk berenang bahkan sampai hari menjelang sore. Kemudian anak-anak akan pulang, membersihkan diri di bilik-bilik sumber air sebelum petang menjelang. Sungai menjadi rumah kedua bagi anak-anak ini, tidak akan mandi tanpa di sungai, bahkan terkadang mereka yang berani biasa menginap di pinggir sungai, di pondok-pondok bambu.
Benarlah bahwa tanah kita tanah surga. Masyarakat disini biasa hidup bergantung alam. Dulu mereka tidak perlu takut ledakan kompor gas. Karena hanya perlu mencari kayu bakar dengan menaiki bukit yang oleh masyarakat selalu disebut gunung, karena jika kita berjalan hingga menuju puncak kita dapat melihat hamparan sawah-sawah di bawahnya laksana karpet hijau yang beralur sungai. Jangan pula ditanya hasil buminya, padi, ketela, cabai, jagung, tebu, kacang, bahkan padi yang bertumpuk-tumpuk membuat masyarakat tidak perlu membeli lagi, cukup ditukarkan dengan hasil bumi tetangga.
Namun, itu dulu. Pada pertengahan tahun 90-an, seakan masih kurang bersyukur, ternyata sungai dan pasirnya juga dapat dijual, pasir yang berada di bawah sungai adalah pasir yang bermutu sangat bagus untuk membuat bangunan. Hal ini sangat menggiurkan bagi para penambang pasir. Beberapa masyarakat yang terdidik, mencoba untuk melawan, tapi mendapat represi dari patok-patok yang ditanam dan pembakaran hutan-hutan milik warga yang tidak mau tanahnya dibeli, dan apa daya dikata keluarlah instruksi pak lurah untuk memperbolehkan penambangan pasir di sungai Opak. Ditambah dengan tergiurnya masyarakat akan kebutuhan dana yang lebih pasti ketimbang berjudi bercocok tanam yang pasti dilindas habis oleh luapan air sungai ketika musim penghujan. Padahal luapan ini membawa pasir dan material-material lain yang sangat dibutuhkan oleh pertanian.
Demikianlah pohon-pohon dibabat untuk dijual sebagai kayu dan pasir dikeruk dari dalam sungai, beberapa petani yang tergiur dana segar juga memperbolehkan penambangan pasir di sawah mereka. Hasilnya sekarang hutan pinggir sungai habis, gunung gundul dan gersang, sungai menjadi dalam, dimana-mana terlihat cekungan tambang pasir. Hasil bumi juga menjadi tidak sesubur dulu, hama datang bergantian, sungai meluap lebih sering. Air menjadi kotor, ibu-ibu tidak pernah mencuci baju lagi karena lebih kotor di sungai daripada di rumah, air-air sumber mati tidak mengalir lagi, bilik-bilik dijadikan kolam ikan, anak-anak hanya sesekali mandi di sungai di saat air tidak terlalu deras, sampah dimana-mana. Beberapa petani terpaksa menjual tanahnya untuk membeli hasil bumi, sebuah ironi.
Mari kita sedikit menengok ke utara, di saat tetangganya yang di selatan selalu was-was terancam gempa yang ironisnya merambat melewati sungai kehidupan, sungai opak, desa-desa di utara juga kebanjiran, tapi kebanjiran wisatawan. Sejak diperkenalkan pada pertengahan tahun 90-an banyak desa-desa di utara menjelma menjadi desa-desa wisata. Lumpang dan alu yang tidak pernah dipakai lagi oleh petani tiba-tiba berbunyi menyambut wisatawan. Keasyikan menunaikan hajat di sungai tidak diperbolehkan karena di pinggir sungai dibuat kolam renang untuk wisatawan. Burung-burung sengaja dibeli untuk dilepaskan lagi di hutan-hutan desa. Para penduduk tidur di bilik-bilik kecil karena kamar besar mereka disewa wisatawan. Tarian ataupun gamelan yang sudah tidak diminati pemuda desa menjadi trend yang tiba-tiba diserbu para pemuda.
Hasilnya, lingkungan desa menjadi asri, pohon-pohon dibiarkan tumbuh dan tidak boleh ditebang, jalan-jalan desa bersih dilewati wisatawan, sesekali terdengar suara gamelan dari balai desa. Puluhan anak-anak SD belajar menanam padi di sawah yang becek dengan riang, tentu saja karena bisa maen air. Hutan dipertahankan rindang disemaraki kicauan berbagai macam burung. Selepas berkeliling desa anak-anak itu berkumpul di balai desa atau terkadang pondok-pondok bambu tepi sawah untuk menyantap hidangan tradisional. Malamnya mereka mempelajari gamelan atau tarian tradisional. Tiba-tiba desa yang sebelumnya membosankan menjadi hidup kembali.
Itulah kehebatan desa wisata, yang terkadang juga diistilahkan sebagai green tourism. Desa wisata sendiri dapat diartikan sebagai suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. ( Nuryanti, Wiendu. 1993. Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 2-3). Sedangkan Edward Inskeep, dalam Tourism Planning An Integrated and Sustainable Development Approach, hal. 166 memberikan definisi : Village Tourism, where small groups of tourist stay in or near traditional, often remote villages and learn about village life and the local environment. (Wisata pedesaan dimana sekelompok kecil wisatawan tinggal dalam atau dekat dengan suasana tradisional, sering di desa-desa yang terpencil dan belajar tentang kehidupan pedesaan dan lingkungan setempat).
Desa wisata telah mampu membuktikan bahwa sebuah desa yang pada awalnya “tidak berbudaya” menjadi “lebih berbudaya”, sehingga membuat orang mau datang untuk membayar beberapa ratus ribu untuk merasa “sedikit berbudaya”. Kebudayaan sendiri berasal dari kata Sansekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal berupa cipta, karsa dan rasa, termasuk hasil dari cipta, karsa dan rasa itu. (Prof. Dr. Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, hal. 146)
Kebudayaan itu ada tiga wujud, yaitu (1) kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan sebagainya (Ini adalah wujud ideal dari kebudayaan yaitu adat-istiadat). (2) kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, atau biasa disebut sebagai system social. (3) kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia, biasa disebut kebudayaan fisik, termasuk pabrik baja, computer canggih, kapal tangki, arsitektur, candi, kain batik, kancing baju. (Prof. Dr. Koentjaraningrat, ibid, hal. 150-151)
Ketiga wujud kebudayaan diatas terurai dalam tiap-tiap unsur kebudayaan universal, yaitu (1) bahasa, (2) system pengetahuan, (3) organisasi social, (4) system peralatan hidup dan teknologi, (5) system mata pencaharian hidup, (6) system religi, (7) kesenian. Dengan demikian tengkulak, transportasi, komoditi, Tuhan, dewa, roh halus, upacara, benda suci, cerita rakyat, syair, seniman, candi, dsb dapat dikategorikan sebagai unsur-unsur kebudayaan. (Prof. Dr. Koentjaraningrat, ibid, hal. 165-166)
Jika demikian, apakah lantas orang kota “tidak lebih berbudaya” daripada orang desa? Sehingga jika dilihat menggunakan kacamata tersebut maka akan tidak ada korelasinya antara kebudayaan dan pariwisata. Budaya hanya dikemas untuk kepentingan pariwisata, sehingga orang mau mengeluarkan uang untuk “mencoba” kebudayaan yang bagi mereka “asing” tersebut. Dan kas pendapatan daerah pun bertambah untuk “melestarikan” “kebudayaan” tersebut. Lantas apakah jika tidak ada dana maka tidak ada “kebudayaan” tersebut? Apakah tidak ada suara alu dan lumpang, suara gamelan di kejauhan dan tari-tarian masuk desa jika tidak ada “dana kebudayaan”?
Strategi tersebut memang berhasil untuk mempertahankan suasana asri pedesaan, jika dibandingkan dengan nasib desa pertama yang harus merelakan sawah-sawah mereka hancur karena tidak adanya “dana kebudayaan” yang ada hanyalah “dana tambang pasir”. Anak-anak kota dapat berkunjung ke desa, menyusuri hutan, berjalan-jalan di pematang, berenang di sawah, bermain air di sungai, menyantap makanan tradisional, dan pulang sambil membawa keinginan untuk kembali lagi pada waktu-waktu yang akan datang.
Tersebutlah pada lebaran kali ini, nenek saya kedatangan banyak sekali tamu-tamu dari kota. Sambil bersilaturahim seperti yang selalu orang lakukan pada saat hari raya, anak-anak mereka juga sangat senang datang berkunjung, karena setiap kali berkunjung mereka selalu menghambur ke sungai. Anak-anak kota tersebut dapat berkunjung ke desa, menyusuri hutan (yang tersisa), berjalan-jalan di pematang, berenang di sawah (yang tersisa), bermain air di sungai (yang kotor), menyantap makanan tradisional, dan pulang sambil membawa keinginan untuk kembali lagi pada waktu-waktu yang akan datang.
Pada akhir kunjungan, para orang tua yang menemani anaknya berenang di sawah hanya berkata, “wah asyik ya bisa berenang di sawah sambil mencari belut, kaya di tv-tv itu, gratis pula, kalo ke desa wisata mah harus bayar ratusan ribu per anak.” Saya yang menjadi tuan rumah hanya tersenyum sambil mengirim SMS lebaran ke beberapa teman, “sumonggo mampir ke desa saya, Dolanan nang sawah lan kali, gratis, tanpa embel-embel desa wisata, J”
Di sebuah kubangan pasir hasil galian di tengah sawah saya menemukan tanaman perintis berbentuk semanggi berhelai empat dalam jumlah yang banyak. Saya hanya bisa berharap keberuntungan akan selalu menaungi desa ini dan desa-desa lainnya.























